Sabtu, 28 Mei 2011

logika Kehidupanku pada”Topi Masa Kecilku” …



Cahaya Kehidupan membukakan kedua mataku…
Jantungku mulai berdetak..
Akupun mulai menghirup udara bebas..
Dengan hembusan nafas…
Sambutan hangat kehadiranku, dalam dunia…
Dengan tangisku dalam dekapan Ibu, menghiasi suasana….
Aku telahir tanpa seorang Ayah. Entah apa yang dirasakan oleh Ibuku ketikaku terlahir dipangkuannya.
Sedih?”…
Ya,,,,”tentu saja.” Karena Ayah  yang seharusnya mendampingi Ibu.
Tapi syukurlah,Ada Diah, kerabat Ibu yang membantu kelahiranku.

 “Minah, tabahkanlah hatimu, saya yakin kamu pasti tegar menghadapi kenyataan ini. Lihatlah anakmu!, betapa indah parasnya, Dia akan menemani hidupmu dan membuatmu bahagia sekaligus menyembuhkan luka atas ketidakhadiran suamimu.” Ucap Diah, kerabat dekat Ibuku itu, sambil mengusap kepalaku.
Air mata Ibuku membasuhi mukaku, lalu diusapnya, Ia berkata “Perasaan  saya  ta tentu, Entah apa yang saya rasakan? Sakitnya hati ini, jika saya teringat suami saya yang telah tutup usia disaat kandungan saya delapan bulannya. Saya kehilangan seseorang yang sangat saya cintai dikala saya menyambut kehadiran buah hati saya ini, saya…”, Ibuku menangis sambil mengecup dahiku.
Walaupun suamimu telah tutup usia karena kejadian tabrak lari oleh orang yang tidak bertanggung jawab itu, tapi kamu jangan mengenyampingkan anakmu ini!”.

            “Kamu benar, Diah. Anak ini adalah amanah dari Yang Maha Pencipta, sudah seharusnyalah saya merawatnya dengan baik. Toh… Anak ini adalah bagian dari kebahagiaan saya juga. Saya akan menyayanginya dan berusaha untuk mendapatkan kehidupan yang layak demi anak saya ini, saya akan memberikan nama Padanya Syifa, karena kehadirannya  bagaikan obat penyembuh luka.

            Rumah tua, kumuh, yang disisipi kardus adalah gambaran tempat tinggalku. Ibuku bukanlah seorang pekerja sukses. Ia hanya penjual nasi uduk keliling disekitar jalan raya. Sesekali ia pun memunguti barang bekas yang dapat didaur ulang, sehingga Ibu dapat menjualnya pada Pak Karim, Bos penerimaan jual beli barang bekas di kampungku.
            Di bawah teriknya matahari, Ibuku melangkah dengan kedua kakinya, harapan Ibu tak lain agar nasi uduknya itu habis terjual. Ibu selalu membawaku kemanapun Ia pergi, Ibu tidak tega bila meninggalkanku sendiri dirumah, namun Ibu juga tak tega membawaku yang terkena panas teriknya matahari, Yaaa,, apa boleh buat, Akupun dibawanya.
            Berkeliling sambil berteriak lembut, Ibu memanggil pelanggan untuk membeli nasi uduk, “Nasi Uduk… Nasi Uduk…., Nasi Uduknya Pak, Bu..”terus seperti itu. Setelah terasa lelah, sejenak kami beristirahat, kami bersandar dibawah pepohonan yang rindang. Sambil mengusap keringa, Ibu berucap, “Nak, maafkanlah Ibumu ini, Ibu telah membawamu kedalam kehidupan Ibu yang serba kekurangan.”
            Setelah beristirahat, kami pun mulai beranjak dan melangkah menuju rumah.

            Bendera kuning semakin terlihat jelas.”Apakah itu?, Ibu cemas dan heran.
            Setibanya ditempat, Aku merasa terayun kebawah, mengikuti Ibu tersimpuh duduk dengan lelahnya.
            Air mata Ibu berlinang..
            “Diah, mengapa begitu cepat kamu meninggalkan saya?, kamu adalah satu-satunya kerabat terdekat yang saya miliki.Yang selalu mengigatkan dikala saya kalut.”Hidup saya terasa rapuh. Peristiwa ini tak terduga, seperti serba kebetulan, sehingga terlintas drama lelucon saja.”
           
            Gelap terang kehidupan menyelimuti setiap langkah kami. Ibuku hanya bisa mengusap dada. Bagaimanapun juga kami harus melanjutkan hidup, sudahlah kami terangkat juang kembali.
            Seusai larut dalam duka, hari-hari terbiasa kami lalui bersama.
            Walaupun Aku selalu menyusahkan Ibu, namun Ibu hanya pandang tak jemu oleh senyumannya yang memikat. Ibu merawatku dengan kelembutan dan kasih sayang. Nyamanku bila dekat dengan Ibu. Karena serasa Tak mencapai samudra pasifik kekayaannya, tapi bagai seisi bumi ku mendapatkan kebahagiaan dari Ibu.

Menginjak Usiaku yang ke-7thn, Ibu mulai memikirkan pendidikan untukku. Ibu menyekolahkanku di sekolah dasar yang terdekat dengan tempat tinggalku.
Setiap hari, Ku diantarkannya kesekolah. Akupun bertemu dengan teman yang lain, dan Aku berkenalan dengan mereka, bahagianyaku saat memiliki banyak teman.
            Dibalik kebahagiaanku, ternyata pengorbanan Ibu bertambah. Selain mencari nafkah untuk kehidupan sehari-hari, Ibu juga harus menambah pekerjaannya, agar biaya sekolahku terpenuhi.

            Setelah naik kelas 5 SD, sedikit demi sedikit Aku mulai mengartikan keadaan.

Kesadaranku pada HidupKu…
Aku menerimanya….  
Aku ingin membenahi.
Tapi, Apa yang harus Aku perbuat?
***
            Aku berjalan sambil melihat orang-orang disekitar pinggiran jalan. Ada segerombolan pemuda yang merokok, dan ada juga Pak kondektur yang menawar-nawarkan jasa angkot, agar mendapati penumpang.
            Sesampainya Ku di warung, Pak Adang menyapaku,”Mau beli apa Syifa?’,,
            Dengan mata yang memperhatikan dagangan Pak Adang, Aku menjawab, “ mau beli minyak tanah 2 liter dan kertas bungkus nasinya 57 lembar, Pak.”
            “Ya, ini barang pembeliannya”
            “Terimakasih, Pak”
“YA, sama-sama.”

            Langkah kakiku menuju rumah. Aku melihat seorang anak sedang meminta-minta pada orang yang berdasi.
            Terlintas dalam pikiranku, “Kenapa tidak Aku seperti itu juga, dengan begitu, Aku dapat membantu Ibu mencari uang untuk kebutuhan kami.
           
            Petang menjelang menyambut hari malam. Tak terasa Aku membantu Ibu membuat nasi uduk untuk dijual besok. Alhamdulillah akhirnya selesai juga.
Seusai membantu Ibu, Aku bergegas ke mesjid untuk mengaji hingga waktu Isya.
            Keesokan hari sepulangnya dari sekolah, Aku bergegas kerumah dan pergi kejalan raya dengan hanya membawa topi.
            Karena Ibu tidak ada dirumah, Aku tidak pamit.

            Aku mulai meminta-minta pada orang berdasi.
            Yah, lumayan juga hari pertama Aku mendapat uang Rp 7.500,00.
            Setibanya Aku di rumah, Ibu bertanya  nampak cemas.
“Darimana saja kamu Syifa?..”
            Dengan perasaan takut, Aku menjawab dan menghampiri Ibu,
            “I.. i…. ni Bu, tadi saya mengerjakan tugas.”
            “Dimana?”
            Dirumah temanku, karena Syifa tidak punya buku paketnya, jadi Syifa mencatat dulu sebentar.”
            Dengan hati gelisah karena kebohonganku, Aku langsung bergegas masuk ke kamar.
           
            Berhari-hari, hingga berminggu-minggu, sepulang sekolah, Aku pergi kejalan raya.
Dengan Alasan kebohonganku pada Ibu untuk mengerjakan tugas disekolah, Aku mencari orang-orang berdasi di jalan raya.
Penghasilan dari pekerjaanku, Akan Ku simpan, kelak jika ada pembayaran sekolah Aku dapat membayarnya tanpa membebani Ibu.
Di hari minggu setelahku membantu Ibu membungkus nasi uduk, aku diam-diam pergi kejalan raya.
Seperti hal sebelumnya kulakukan meminta-minta pada orang berdasi.
Sambil meneladahkan topi, Aku menyapa “ Pak…, berilah saya uang Pak!!!” terus seperti itu hingga ada orang yang memberi uang.
            “Shyuuut,” tanganku tergoyah hingga uang yang ada di topi terjatuh,,,,
            Dengan menunduk Aku mengambil topiku yang terampas oleh tangan orang lain.
            Seketika Ku menoleh, Aku terdiam.
           
“Apa yang kamu lakukan, Syifa?”
            “APA?’ Ibu berteriak dihadapan wajahku.

“Kenapa Syifa kamu membohongi Ibu?”..
            Akupun langsung dibawa Ibu pulang kerumah.
            Di sepanjang jalan, Aku di nasehati Ibu. Ibu nampak kesal padaku.
            “Syifa. Kamu telah mempermalukan Ibu, Ibu kecewa padamu. Anak yang selama ini Ibu bangga-banggakan menjadi brutal di jalan raya.
“Syifa, dengarlah Ibu, Nak!!,, Ibu sayang sama kamu, Ibu tidak mau kamu kelak seperti Ibu. Ibu berusaha untuk menyekolahkanmu. uang didalam topi ini, tidaklah berharga bagi Ibu maupun dirimu. Ibu mengerti, kamu melakukannya untuk membantu Ibu, tapi jika kamu mau membantu Ibu, belajarlah dengan rajin. Ibu harap jangan sesekali kamu mengulanginya lagi!”
            “iyaa… Bu maafkan Syifa, Syi menyesal, karena Syifa sudah membuat Ibu kesal. Syifa janji Syifa tidak akan mengulanginya lagi.”

            Baru Ku sadari, ternyata Aku salah. Aku akan membanggakan Ibu dengan prestasiku. TEKADKU!!!
Ku lalui kegiatan di persekolahanku dengan sungguh-sungguh. Hingga akhirnya setiap lulus ujian, Aku mendapati pringkat yang tak lepas dari pringkat 5 besar.
            Kelulusan SMA telah Ku raih. Ibu pun sangat bahagia.dan bangga, ketika Aku dinyatakan lulus UAN.
            “Ibu bangga padamu, Nak. Hanya saja Ibu belum bisa menyekolahkanmu lebih lanjut. Maafkan Ibu ya, Nak!!”
            “Buu…, bagi Syifa Ibu telah memberikan yang terbaik. Syifa disekolahkan sampai SMA saja, Syifa sangat bersyukr. Karena Syifa tau hal ini tak mudah bagi Ibu, dengan keadaan kita yang serba berkecukupan.
            Aku mendekati Ibu, Aku memeluk Ibu dengat lekatnya. Ibu pun menyapaku dengan mengelus kepalaku. Sejenak keadaan santai seperti ini.

            Terlepas dari pelukan Ibu dengan perlahan, Aku minta izin, “ Bu… bolehkah Syifa bekerja?”
            Bekerja Apa ?”
            “kebetulan toko swalayan dekat pemberhentian bis  ada lowongan pekerjaan, bila Ibu mengizinkan, Syifa akan
melamar pekerjaan disana.
            “Jika kamu menginginkan demikian, Ibu mengizinkannya. Tapi izinkan Ibu menyekolahkanmu lebih lanjut, karena itu adalah harapan Ibu, Ibu harap kamu masih semangat dalam menggapai Ilmu.”
            “Bu, Syifa mengerti dengan hal itu. Dan syifa juga ingin melanjutkan sekolah. Sambil Ibu mencari biaya kuliah untuk Syifa, setelah Syifa bekerja, Syifa juga dapat membantu Ibu untuk menabung.”
           
            Satu tahun dilalui, ternyata biaya untuk kuliah belum tercukupi. Aku dan Ibuku tidak menyerah begitu saja. Kami terus bekerja keras. Setengah perolehan kami, Ibu gunakan untuk membeli mesin jahit dan mulai membuka jasa jahit. Dan sisanya ditabung.
 Awalnya sulit mencari pelanggan, tapi setelah Aku bertemu dengan sahabat SMA Ku Tina, yang membutuhkan jasa jahit untuk membuat baju seperti yang Ia inginkan, jasa jahit Ibu mulai didengar masyarakat. Karena baju jahit pesanan Tina, sangatlah cocok, dan pas dengan keinginannya. Tina senang, dan Tina menyebarkan jasa jahit Ibu yang bagus. Sejak saat itu, para pelanggan mulai berdatangan.
            Dari usaha Ibu berjualan nasi uduk, usaha jahitan, dan dari gaji ku sebagi kasir dari toko swalayan, hingga berbulan-bulan Alhamdulillah uang yang kami dapat lebih tercukupi. Bahkan sisanya dapat melunasi hutang-hutang Ibu pada tetangga.
            Tak Ku duga, kerja keras Aku bersama Ibu telah membuahkan hasil.
            “Syifa, kamu mau masuk jurusan apa, Nak?”, Ibu bertanya sambil menjahit kain pelanggannya.
            “Aku mau masuk jurusan Pendidikan Matematika,Bu.”
            Ku coba cari Universitas yang relevan dengan Ku.
            Ibu menyuruhku untuk berhenti kerja dan menekuni kuliah, karena Ibu pikir dari usaha berjualan nasi uduk dan jasa menjahit yang telah memiliki pelanggan tetap, Ibu menyanggupi kebutuhanku.
***
Aku bergegas untuk berangkat kuliah, Aku mulai mengenakan kerudung, niatku untuk selalu memakai kerudung telah melekat. Akupun berpamitan dam meminta do’a restu dari Ibu.
            “Bu, Syifa berangkat kuliah, ya..?”
            “Assalamualaikum, Bu…
            “iya, wa’alaikum salam . hati-hati dijalan ya Nak!”

            Rasanya Aku seperti hidup kembali, dimanaku memiliki teman baru yang bersikap ramah padaku.Akupun mulai bersahabat dengan mereka.
Aku berjalan menuju perpustakaan untuk meminjam buku. Aku berpapasan dengan seorang pemuda yang tak ku kenal. Namun entah apa yang kurasakan?,mataku tak kuasa menatapnya.namun jantungku berdetak dengan kencangnya.
            Seringkali Aku berpapasan dengannya, semakin Ku yakin aku menyukainya. Inilah anugrah bagiku dari Yang Maha Kuasa.
            Aku menutup rapat perasaanku padanya. Aku tak mau kuliahku terganggu dengan masalah ini. Aku lebih menyayangi Ibu. Cukup hati ini yang merasakan.
            Tak lama kemudian dosen tiba di kelas, pembelajaranpun segera dimulai.  Aku memperhatikan langkah-langkah pembelajarannya. Sesekali menanyakan hal-hal yang belum aku mengerti.
            ****

            Penyusunan skripsi kulalui, hingga ku mendapatkan gelar S1, sepulang wisuda, Aku bergegas pulang ke rumah untuk memberitahu Ibu atas keberhasilanku ini. Ibu tidak bisa mendampingiku, karena terpaksa harus menyelesaikan jahitan pelangan.
Aku mulai membuka pinti rumahku. Jantungku berdetak kencang, seolah-olah Aku merasakan sentuhan hangat Ibu.
            Sambil berlari masuk ruang jahit Ibu yang mungil, Aku berkata dengan semangat. “Ibu… Syifa berhasil.”
            Dengan senyum penuh rasa kebanggaan Ibu menjawab, “ Alhamdulillah,, selamat ya Nak.”
            “nak, Akhirnya harapan dan tanggung jawab Ibu terlaksana. Kamu memang anak ibu yang pintar, cantik, dan sholehah, Ibu bangga padamu Nak. Ibu harap kamu segeralah menerima sandingan untuk masa depanmu agar kelak kamu tidak kesepian.!!”
            Ibu terhenti bicara dan memegang erat tanganku. Seketika Ku ingin mengecup dan menjabat tangan Ibu, Ibu memeluk Aku dengan lemas, tergeletaklah ibu menyusut kebawah.
            “Ko Ibu diam, kenapa Bu?,,,”
            Aku terasa panik.

            Perasaan cemas membuatku reflex membawa Ibu ke Rumah sakit.

Aku terngiang saat topi jalananku yang sempat membuat Ibu kesal. Termenung, Menangis, dan Sepi kurasa sambil Ku menanti kabar Ibu di UGD.

            “Dug… dug.. dugh..” jantungku berdetak kencang hingga terngiang di telingaku.
            Dokter telah menutup wajah ibu,saat itu aku menyesal kurang memperhatikan ibu, hingga ku tak tau Ibu sakit.
            Aku gugup semayu.

            Usaikanlah ibu,, (aku tersimpuh lutut menatap topi wisudaku),,,
            Aku menggema suara dalam ruangan itu,,”Bu,, kenapa hati ini terasa sakittt…”… jawab bu!!!(aku tak tahan berpaling dari wajah ibu merengek sendiri)
            “Ujung kisah peninggalanmu bu, aku telah mengantarkanmu hingga tempat asal manusia diciptakan”,,
            Seusai ku beranjak dari pemakaman ibu,,,
            “Syifa”…
            Kurasa ada yang memanggilku, aku menoleh lantas ku menatap hinggga pasti siapa yang memanggilku.”.. Hmm… K dera?”kenapa tau syifa ?”
            “Ya, saya dera, kita sering berpapasan diperpustakaan kan?,, tentu saya mengenalmu, dan sangat ingin mengenalimu,,,”saya mencari tahu, hingga saya tahu kamu saat ini.
            Saat itu aku tak bisa berucap, dalam hati ku menggema,”Subhanallah, Alhamdulillah ya Robb.”,, sambil jalan meninggalkan pemakaman k dera menemaniku, cukup hatiku nyaman.
            Kejadian hidupku berlalu,, aku mulai menjalaninya sendiri...
           
Ya Robbi,,
Sungguh syurga illahi ada dibawah telapak kaki ibu,,
Aku kian sendiri disini,,
Namun hatiku tertinggal dibawa angan,,,
Aku rindu padamu ibu,,
Suasana hati tak kuduga akan bergulir begini,,
Senang, duka, sakitt…
Pilu karena cinta yang kumiliki kian tak ada disampingku,,
Tapi apa daya?.. aku hanya bisa mendo’akanmu disini…
Kau pergi disaatku mengubah topi masa kecilku dengan topi kesuksesanku,,

            Pada saat ku menjalani hidup,,, seorang kekasih hati mengajaku ibadah,, K dera melamarku. Aku kenang ibu dihatiku, ku menikah dengan k dera. Piluku terhapuskan dengan kehadiran k dera, dan kini ku menjadi seorang guru Matematika.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar